7 Cara Memanfaatkan Twitter untuk Pendidikan

Twitter bukan saja sumber berita tercepat, tapi Anda juga bisa belajar banyak dengan menggunakan Twitter. Bagaimana caranya?

Panduan Search Engine untuk Anak

Kebanyakan aktivitas menjelajahi internet dimulai dari search engine. Bekali anak Anda dengan tips berikut supaya internet tetap aman dan bermanfaat.

Guru Virtual untuk Belajar Bahasa Asing

Ingin pintar berbahasa asing? Coba saja aplikasi berikut ini

Saluran Pendidikan di YouTube

Siapa sangka Anda bisa menjadi lebih pintar dengan banyak menonton di YouTube? Pilih videonya disini.

Potensi Global Konten E-learning asal Indonesia

Konten e-learning buatan Indonesia sangat diminati pasar luar negeri. Ada peluang bisnis yang besar disini.

Tuesday, October 14, 2014

Inilah Pemenang Mobile Edukasi 2014

EDUQO.com: Ajang kompetisi mobile learning terbesar di Indonesia yaitu “Mobile Edukasi 2014” telah sukses terselenggara. Proses penjurian berlangsung mulai dari tanggal 1 hingga 3 Oktober 2014. Kompetisi ini sendiri diadakan oleh Balai Pengembangan Multimedia Pendidikan Pustekkom Kemdikbud.


Tahun 2014 ini tercatat total pendaftar sebanyak 602 orang. Ini artinya terdapat peningkatan lebih sekitar tiga kali lipat dari tahun sebelumnya yang baru diikuti oleh sekitar 200 peserta.

Melihat antusiasme peserta yang membludak, tahun 2014 ini juga kompetisi ini membagi kategori ke dalam tiga kelompok yaitu Umum, Guru, dan Pelajar.

Dari 602 orang peserta ini terjaring 45 karya terbaik yang terdiri dari 15 karya pada tiap-tiap kategori sehingga menjadi Finalis. Berikut daftar para pemenang.

Juara kategori Umum:
1. Yusep Maulana (Sekolah Tinggi Teknologi Garut) dengan karya "Nasehat Ayah Agar Anak Terhindar dari Kekerasan Seksual".
2. Nur Rohman (Udinus Semarang) dengan karya "Pembelajaran Salat Usia Dini".
3. Aldi Nur Syahputra (Unnes) dengan karya "Listrik Dinamis".
Pemenang kategori Umum

 Juara kategori Pelajar:
1. Beni Machmud Putra (SMK Telkom Malang) dengan karya "Mengenal dan Mengatasi Pemanasan Global".
2. Galih Andika Budi (SMKN 1 Blora) dengan karya "Getaran Gelombang dan Bunyi".
3. Wahyu Adi P (SMKN 11 Semarang) dengan karya “English House”.
Pemenang kategori Pelajar

Juara kategori Guru:
1. Hermin Hamid (SMPN 6 Kendari) dengan judul "Fisika Siaga".
2. Imron (SMA Abu Hurairah Mataram) dengan karya "Momentum dan Tumbukan".
3. Tri Rusdiono (SMAN 1 Wonosobo) dengan karya "Volume Benda Putar".
Pemenang kategori Guru
Besar harapannya dari ajang edtech seperti ini melahirkan para pendidik dan peserta didik Indonesia yang lebih melek TIK.

Selamat kepada para pemenang!

Sunday, October 05, 2014

Selamat Hari Guru Sedunia ke-20!

EDUQO.com: Tanggal 5 Oktober 2014 bertepatan dengan “World Teachers Day” atau “Hari Guru Sedunia” yang ke-20. Hashtag #WorldTeacherDays sempat meramaikan media sosial Google Plus dan Twitter.   


World Teachers Day sendiri tampaknya belum begitu populer di Indonesia. Para guru di negeri ini lebih mengetahui “Hari Guru Nasional” yang rutin diperingati tiap tanggal 25 November.


Era ASEAN Free Trade Area (AFTA) 2015 sudah di depan mata. Para guru di Indonesia sebaiknya semakin serius meningkatkan kualitas diri sehingga bisa berdampak terhadap kualitas peserta didiknya.

Menyambut AFTA 2015 ini, para guru khususnya — karena peran pembangunan bangsa bukan hanya tugas guru — akan mengalami tantangan yang lebih berat. Karena menurut analisa para ahli, Indonesia dianggap belum siap untuk menghadapi fase perdagangan bebas di kawasan Asia Tenggara itu.

Gambar: Google for Education

Saturday, August 09, 2014

5 Startup Edtech Asia yang Mendapatkan Funding Baru-baru ini

EDUQO.com: Pendanaan startup edtech di Indonesia memang tidak semudah di negara-negara Asia lainnya. Namun, ini merupakan tantangan sekaligus peluang tersendiri mengingat di negara kita juga terdapat beberapa startup edtech yang berkualitas.


Pada edisi kali ini, EDUQO menghimpun lima startup edtech di Asia yang pada periode Juni hingga Juli silam mendapatkan pendanaan, yaitu:

1. Fliplingo

Berbasis di Thailand, Fliplingo merupakan startup edtech yang menyediakan layanan penerjemahan tweet hingga 30 bahasa di Twitter. Proses penerjemahannya sendiri dilakukan oleh manusia dalam waktu 15 menit. Filiplingo temasuk startup edtech karena memberikan informasi mengenai pembelajaran bahasa. Fliplingo mendapatkan dana awal sebesar USD 150.000 (sekitar Rp 1.650.000.000,-).

2. PhilSmile

Sekitar 12 juta warga Filipina  bekerja di luar negeri dan mentransfer uang untuk kebutuhan pendidikan bagi keluarganya di kampung halaman. Pada tahun 2013 saja tercatat transfer yang dikirim warga Filipina yang berdomisili di luar negeri untuk biaya pendidikan keluarga sekitar USD 1,3 milyar.

Dengan jeli PhilSmile menjadikan data ini sebagai lahan bisnis startup edtech-nya dengan menyediakan layanan khusus pembayaran pendidikan. Sayangnya PhilSmile enggan mengungkap berapakah dana awal yang telah diterima dari Eric Barbier selaku founder dan CEO TransferTo tersebut.

3. Wanxue

Didirikan pada tahun 2006, Wanxue merupakan startup edtech asal China yang menyediakan layanan berbagai tes persiapan online di China seperti “The China Graduate Admission Test”. Ini kali ketiga Wanxue mendapatkan pendanaan dari investor setelah pada tahun 2008 dan 2011 sebesar USD 20 juta.

Wanxue mendapatkan pendanaan seri C dari Baidu yang diperkirakan sekitar puluhan juta dolar. Pendanaan ketiga dari Baidu ini juga menandai bahwa Wanxue resmi menggunakan domain baru di bawah portal pendidikannya Baidu.

4. Yuantiku


Mirip dengan Waxue, Yuantiku juga startup edtech berupa platform yang menyediakan layanan test persiapan di China. Didirikan pada tahun 2012, Yuantiku telah memiliki lebih dari 1,5 juta pengguna yang belajar melalui database soal-soal tes dan ujiannya. Perbedaannya dengan Waxue, Yuantiku juga menyediakan tes persiapan pegawai negeri, pasca sarjana, dan tes masuk kerja.

Yuantiku sendiri memperoleh pendanaan seri C sebesar USD 15 juta (sekitar Rp 165 milyar) dari Matrix Partners China dan IDG. Sebelumnya Yuantiku meraih pendanaan seri A sebesar USD 2,2 juta (2012) dan pendanaan seri B sebesar USD 7 juta (2013).

5. Taamkru

Taamkru merupakan startup edtech asal Thailand yang menyediakan platform e-learning khusus untuk anak-anak pra-sekolah. Dengan menggunakan platform Taamkru, anak-anak pra-sekolah di Thailand bisa bermain sambil belajar dengan tetap mendapatkan pantauan dari orang tua. Taamkru yang sudah memiliki 100.000 pengguna aktif bulanan ini juga memiliki aplikasi mobile-nya.

Taamkru sendiri mendapatkan pendanaan awal sebesar USD 620.000 (sekitar Rp 6.820.000.000). Anda bisa men-download aplikasi Taamkru disini.

Semoga kelima startup edtech Asia yang mendapatkan funding tadi bisa menginspirasi Anda bahwa betapa peluang mendirikan startup edtech di Indonesia masih terbuka luas dengan ide-ide bisnis yang kreatif dan inovatif.

Sumber: Edukwest

Monday, August 04, 2014

LeapFrog Mengakuisisi Pembuat Browser Khusus Anak KidZui

EDUQO.com: Perusahaan hiburan edukatif LeapFrog yang berbasis di California-Amerika Serikat mengakuisisi startup edtech KidZui sebagai penyedia browser internet khusus anak.




KidZui sebelumnya merupakan browser resmi pada tablet yang dikeluarkan LeapFrog yaitu LeapPad3 dan LeapPage Ultra Xdi. KidZui sendiri mengklaim bahwa browser-nya aman untuk anak karena bisa mengarahkan konten web yang sesuai dengan perkembangan anak baik foto, video, dan lainnya. Saat EDUQO membuka KidZui, kondisi websitenya sedang down.

Anda bisa menyaksikan preview sekilas mengenai KidZui pada video berikut ini:

Sumber: Tech Crunch

Saturday, August 02, 2014

900 Aplikasi yang Memanjakan Anak dari Samsung

EDUQO.com: Pada pertengahan Juli 2014 silam, Samsung meng-upgrade “Samsung Apps Store” dengan desain dan nama baru yaitu: Samsung Galaxy Apps.



Samsung Galaxy Apps sendiri melalui fitur “Kids Store”-nya ingin memanjakan buah hati Anda dengan menyediakan 900 aplikasi khusus anak baik gratis maupun berbayar termasuk games, aplikasi pendidikan, dan masih banyak yang lainnya. Beberapa aplikasi anak populer yang tersedia yaitu “LEGO”, “Pocoyo”, dan “Tipitap”.

Sayangnya 900 aplikasi khusus anak ini baru tersedia pada smartphone Galaxy S5 dan tablet Galaxy Tab S.

Sumber: The Next Web
Gambar: Samsung