7 Cara Memanfaatkan Twitter untuk Pendidikan

Twitter bukan saja sumber berita tercepat, tapi Anda juga bisa belajar banyak dengan menggunakan Twitter. Bagaimana caranya?

Panduan Search Engine untuk Anak

Kebanyakan aktivitas menjelajahi internet dimulai dari search engine. Bekali anak Anda dengan tips berikut supaya internet tetap aman dan bermanfaat.

Guru Virtual untuk Belajar Bahasa Asing

Ingin pintar berbahasa asing? Coba saja aplikasi berikut ini

Saluran Pendidikan di YouTube

Siapa sangka Anda bisa menjadi lebih pintar dengan banyak menonton di YouTube? Pilih videonya disini.

Potensi Global Konten E-learning asal Indonesia

Konten e-learning buatan Indonesia sangat diminati pasar luar negeri. Ada peluang bisnis yang besar disini.

Saturday, October 25, 2014

Inilah yang Saya Pelajari dari Ajang Google Teacher Academy 2014

EDUQO.com: (Catatan: Pada tanggal 13 September 2014 silam saya mengisi workshop Google Apps for Education ditemani oleh Steven Sutantro sebagai rangkaian dari kegiatan Computer Festival, Universitas Indonesia.

Saat itu Steven memberi kabar gembira bahwa dirinya terpilih sebagai salah satu perwakilan dari Guru di Indonesia yang bisa mengikuti ajang bergengsi tingkat regionalGoogle Teacher Academy South East Asia 2014di Manila, Filipina. Berikut kisahnya untuk Anda.)
***


Google Teacher Academy (GTA) merupakan kegiatan berupa professional development yang didesain untuk menolong pendidik untuk belajar inovasi teknologi pendidikan.

GTA merupakan acara dua hari yang menolong peserta untuk belajar menggunakan Google tools dan strategi pembelajaran terkini, serta mendapatkan sumber untuk dapat dibagikan kepada pendidik agar membuat dampak.

Ada sekitar 50 pendidik yang terpilih menghadiri acara ini.  Pendidik yang menghadiri GTA akan menjadi Google Certified Teachers (GCTs). GCT diharapkan merupakan pendidik yang mempunyai minat dan semangat untuk menggunakan teknologi dan pendekatan yang inovatif untuk mengembangkan pembelajaran.

Selama dua hari itu pula, GTA sanggup mengubah pola pikir saya, menambah networking, dan membantu dalam menyiapkan suasana belajar yang menyenangkan. Saya merasakan antusiasme, kolaborasi, dan motivasi belajar yang tinggi dan benar-benar menular serta mempercepat proses belajar yang kreatif dan efektif. 

Pembicara yang dihadirkan dalam GTA pun memiliki segudang pengalaman tentang penerapan teknologi pendidikan yang benar-benar menginspirasi saya untuk berdiskusi dan berbagi pengalaman praktis di lapangan serta memecahkan masalah dengan berbagai solusi.


 Ada beberapa pelajaran yang saya dapatkan dari ajang GTA ini:

Pelajaran 1# Belajar Menjadi Pendidik yang Outstanding
Pendidik yang outstanding memiliki passion menggunakan teknologi untuk pengembangan pembelajaran dan pengajaran.


Menurut pendapat saya, pendidik yang outstanding merupakan sosok yang berkomitmen menggunakan teknologi di dalam kelas bukan lagi sekedar hanya sebagai substitusi media pembelajaran, dimana siswa hanya sebatas belajar membuat blog, presentasi, dan dokumen secara online.

Pendidik yang outstanding bisa menggunakan teknologi untuk mendefinisikan ulang konsep pembelajaran dengan melakukan inovasi bersama siswa demi membuat perubahan, mengubah pola pikir, dan memulai kesadaran untuk membangun kolaborasi yang positif.


Pelajaran 2# Bertumbuh Menjadi Pemimpin Kreatif
Pemimpin kreatif memahami kesempatan dan tantangan serta kerinduan untuk menolong komunitas lokal dalam memecahkan masalah dengan teknologi.

Saya di tengah-tengah para Guru dari Asia Tenggara lainnya
Salah satu tantangan terbesar dalam pendidikan di seluruh dunia yaitu membuat sistem sederhana yang praktis, efektif, dan efisien. Menyadari hal ini saya belajar bagaimana menjadi pemimpin kreatif yang berdampak, setidaknya memimpin di dalam wilayah komunitas dimana saya beraktivitas.

Salah satu hal yang saya lakukan yaitu mendorong penggunaan teknologi di dalam komunitas sekolah dimana saya mengajar. Saya menunjukkan pentingnya penggunaan teknologi di dalam kelas, administrasi, dan sekolah itu sendiri.


Saya juga memberikan langkah-langkah praktis bagaimana teknologi dapat memecahkan masalah sehari-hari dalam pendidikan untuk membuat segala sesuatu lebih efektif. Salah satu kreasi pendidikan yang saya dapatkan dari ajang GTA ini yaitu “Google Classroom”.

Google Classroom menyediakan sarana bagi guru dalam mengelola materi pelajaran, rencana pembelajaran, tugas, kuis, bahkan penilaian berbasis rubrik yang otomatis terintegrasi dengan Google Drive.

Selain Google Classroom, kreasi pendidikan ala Google yang saya peroleh dari GTA lainnya yaitu pemanfaatan Google Plus sebagai jejaring sosial milik Google. Dengan menggunakan Google Plus, saya menemukan begitu banyak potensi untuk keperluan pendidikan dimana siswa dan guru dapat membuat komunitas belajar serta berbagi gambar dan video. Selain itu di dalam Google Plus  ada pula Google Hangout yang dapat membantu siswa untuk belajar, berdiskusi, dan berbagi seputar pelajaran secara bersama-sama.


Saya juga belajar bagaimana menyimpan dan membagikan materi melalui teknologi komputasi awan (cloud computing) dengan cara mengelola file di Google Drive. Selama ini kebanyakan diantara kita menyimpan data pada harddisk yang terdapat pada device masing-masing baik itu desktop (komputer meja) maupun laptop.

Nah, Google Drive merupakan sarana efektif untuk menyimpan dokumen, presentasi, bahkan formulir di “awan” — sebuah istilah yang menunjukkan bahwa data kita tidak tersimpan di harddisk — yang terintegrasi satu sama lain sehingga dengan mudah kita dapat menyimpan dan membagikannya melalui Gmail.

Dengan Google Drive yang menggunakan teknologi komputasi awan ini, data Anda bisa terjaga keamanannya, sekalipun misalkan desktop dan/atau laptop Anda hilang. Selain itu keuntungan menggunakan Google Drive adalah kita dapat mengurangi penggunaan kertas, mempermudah aksesibilitas, dan melindungi dokumen baik dari virus, kerusakan, bahkan kehilangan sekalipun.


Pelajaran 3# Menjadi Duta Perubahan yang Memberikan Contoh Ekspektasi yang Tinggi, Pembelajar Seumur Hidup, Kolaborasi, dan Inovasi
Saatnya memulai perubahan sederhana agar pendidik menjadi pribadi pembelajar seumur hidup yang senantiasa berinovasi dan berkolaborasi.


Salah satu hal yang saya lakukan untuk memulai perubahan sederhana ini yaitu dengan membuat kegiatan “professional development” yang berkualitas. Saya bersama beberapa rekan Google Certified Teachers  lainnya memulainya dengan mendirikan “Google Educator Group” (GEG) di Jakarta.

Google Educator Group sendiri merupakan komunitas independen pendidik — bukan instruksi dari pihak Google sebagai perusahaan — yang memampukan pendidik untuk memenuhi kebutuhan siswa dengan teknologi. Disinilah perubahan itu dimulai. Komunitas ini didirikan untuk memfasilitasi guru untuk belajar bersama dengan gratis dan menyenangkan.

Saya percaya masih banyak guru-guru yang memiliki semangat belajar tinggi yang ingin belajar teknologi pendidikan bersama-sama. Di dalam komunitas GEG, kita dapat melakukan aktivitas professional development dalam berbagai macam bentuk seperti workshop, picnic, hangout, sharing, unconference, dan berbagai cara kreatif lainnya untuk belajar.

Salah satu kegiatan GEG yang sudah saya lakukan yaitu menginisiasi meetup pertama GEG Jakarta Barat pertama di Singapore International School, Kebon Jeruk, dimana Craig Hansen yang menjadi Kepala Sekolah disana.

Craig (paling kiri) salah satu partner saya dalam mendirikan komunitas GEG
Percaya atau tidak, saya dan Craig, mendirikan komunitas GEG ini murni hanya dengan menggunakan produk-produk Google yang gratis seperti Gmail, Google Hangout, dan Google Plus.

Tetapi, disitulah perubahan dimulai dimana komitmen untuk berkolaborasi di antara kami melahirkan “Komunitas Pendidikan Google” atau Google Educator Group di Jakarta Barat. Saat awal-awal pendirian GEG, meskipun kami belum pernah bertemu secara face to face, namun hal itu tidak menghalangi passion kami untuk membuat perbedaan khususnya dalam pendidikan di Jakarta.

Mari bergabung bersama kami dalam komunitas yang akan mentransformasi dunia pendidikan dan teknologi di Indonesia. Anda bisa mengunjungi komunitas Google Educator Group disini.

Pertemuan pertama komunitas GEG Jakarta Barat


***
EPILOG
Demikianlah refleksi kehidupan yang saya pelajari dari Google Teacher Academy South East Asia. Saya berharap kedepannya akan lebih banyak lagi guru dari Indonesia yang akan bergabung dalam ajang Google Teacher Academy.


*Ditulis oleh Steven Sutantro (Guru Kewirausahaan SMA Dian Harapan Daan Mogot, Jakarta) sebagai Juara I ASEAN Teacher Essay Writing Competition 2012 yang diselenggarakan oleh Olimpiade Ilmu Sosial-Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Indonesia.

Penulis juga berhasil menerbitkan jurnal ilmiah di jurnal Polygot, “Using Simulation to Improve Students’ Creative Thinking in Economics” berkolaborasi dengan Pamela Harvey, Ph.D dari Southland College.

Anda bisa menghubungi Penulis dengan follow di Twitter @StevenSutantro atau circle di Google Plus +StevenSutantro.

Tuesday, October 14, 2014

Inilah Pemenang Mobile Edukasi 2014

EDUQO.com: Ajang kompetisi mobile learning terbesar di Indonesia yaitu “Mobile Edukasi 2014” telah sukses terselenggara. Proses penjurian berlangsung mulai dari tanggal 1 hingga 3 Oktober 2014. Kompetisi ini sendiri diadakan oleh Balai Pengembangan Multimedia Pendidikan Pustekkom Kemdikbud.


Tahun 2014 ini tercatat total pendaftar sebanyak 602 orang. Ini artinya terdapat peningkatan lebih sekitar tiga kali lipat dari tahun sebelumnya yang baru diikuti oleh sekitar 200 peserta.

Melihat antusiasme peserta yang membludak, tahun 2014 ini juga kompetisi ini membagi kategori ke dalam tiga kelompok yaitu Umum, Guru, dan Pelajar.

Dari 602 orang peserta ini terjaring 45 karya terbaik yang terdiri dari 15 karya pada tiap-tiap kategori sehingga menjadi Finalis. Berikut daftar para pemenang.

Juara kategori Umum:
1. Yusep Maulana (Sekolah Tinggi Teknologi Garut) dengan karya "Nasehat Ayah Agar Anak Terhindar dari Kekerasan Seksual".
2. Nur Rohman (Udinus Semarang) dengan karya "Pembelajaran Salat Usia Dini".
3. Aldi Nur Syahputra (Unnes) dengan karya "Listrik Dinamis".
Pemenang kategori Umum

 Juara kategori Pelajar:
1. Beni Machmud Putra (SMK Telkom Malang) dengan karya "Mengenal dan Mengatasi Pemanasan Global".
2. Galih Andika Budi (SMKN 1 Blora) dengan karya "Getaran Gelombang dan Bunyi".
3. Wahyu Adi P (SMKN 11 Semarang) dengan karya “English House”.
Pemenang kategori Pelajar

Juara kategori Guru:
1. Hermin Hamid (SMPN 6 Kendari) dengan judul "Fisika Siaga".
2. Imron (SMA Abu Hurairah Mataram) dengan karya "Momentum dan Tumbukan".
3. Tri Rusdiono (SMAN 1 Wonosobo) dengan karya "Volume Benda Putar".
Pemenang kategori Guru
Besar harapannya dari ajang edtech seperti ini melahirkan para pendidik dan peserta didik Indonesia yang lebih melek TIK.

Selamat kepada para pemenang!

Sunday, October 05, 2014

Selamat Hari Guru Sedunia ke-20!

EDUQO.com: Tanggal 5 Oktober 2014 bertepatan dengan “World Teachers Day” atau “Hari Guru Sedunia” yang ke-20. Hashtag #WorldTeacherDays sempat meramaikan media sosial Google Plus dan Twitter.   


World Teachers Day sendiri tampaknya belum begitu populer di Indonesia. Para guru di negeri ini lebih mengetahui “Hari Guru Nasional” yang rutin diperingati tiap tanggal 25 November.


Era ASEAN Free Trade Area (AFTA) 2015 sudah di depan mata. Para guru di Indonesia sebaiknya semakin serius meningkatkan kualitas diri sehingga bisa berdampak terhadap kualitas peserta didiknya.

Menyambut AFTA 2015 ini, para guru khususnya — karena peran pembangunan bangsa bukan hanya tugas guru — akan mengalami tantangan yang lebih berat. Karena menurut analisa para ahli, Indonesia dianggap belum siap untuk menghadapi fase perdagangan bebas di kawasan Asia Tenggara itu.

Gambar: Google for Education

Saturday, August 09, 2014

5 Startup Edtech Asia yang Mendapatkan Funding Baru-baru ini

EDUQO.com: Pendanaan startup edtech di Indonesia memang tidak semudah di negara-negara Asia lainnya. Namun, ini merupakan tantangan sekaligus peluang tersendiri mengingat di negara kita juga terdapat beberapa startup edtech yang berkualitas.


Pada edisi kali ini, EDUQO menghimpun lima startup edtech di Asia yang pada periode Juni hingga Juli silam mendapatkan pendanaan, yaitu:

1. Fliplingo

Berbasis di Thailand, Fliplingo merupakan startup edtech yang menyediakan layanan penerjemahan tweet hingga 30 bahasa di Twitter. Proses penerjemahannya sendiri dilakukan oleh manusia dalam waktu 15 menit. Filiplingo temasuk startup edtech karena memberikan informasi mengenai pembelajaran bahasa. Fliplingo mendapatkan dana awal sebesar USD 150.000 (sekitar Rp 1.650.000.000,-).

2. PhilSmile

Sekitar 12 juta warga Filipina  bekerja di luar negeri dan mentransfer uang untuk kebutuhan pendidikan bagi keluarganya di kampung halaman. Pada tahun 2013 saja tercatat transfer yang dikirim warga Filipina yang berdomisili di luar negeri untuk biaya pendidikan keluarga sekitar USD 1,3 milyar.

Dengan jeli PhilSmile menjadikan data ini sebagai lahan bisnis startup edtech-nya dengan menyediakan layanan khusus pembayaran pendidikan. Sayangnya PhilSmile enggan mengungkap berapakah dana awal yang telah diterima dari Eric Barbier selaku founder dan CEO TransferTo tersebut.

3. Wanxue

Didirikan pada tahun 2006, Wanxue merupakan startup edtech asal China yang menyediakan layanan berbagai tes persiapan online di China seperti “The China Graduate Admission Test”. Ini kali ketiga Wanxue mendapatkan pendanaan dari investor setelah pada tahun 2008 dan 2011 sebesar USD 20 juta.

Wanxue mendapatkan pendanaan seri C dari Baidu yang diperkirakan sekitar puluhan juta dolar. Pendanaan ketiga dari Baidu ini juga menandai bahwa Wanxue resmi menggunakan domain baru di bawah portal pendidikannya Baidu.

4. Yuantiku


Mirip dengan Waxue, Yuantiku juga startup edtech berupa platform yang menyediakan layanan test persiapan di China. Didirikan pada tahun 2012, Yuantiku telah memiliki lebih dari 1,5 juta pengguna yang belajar melalui database soal-soal tes dan ujiannya. Perbedaannya dengan Waxue, Yuantiku juga menyediakan tes persiapan pegawai negeri, pasca sarjana, dan tes masuk kerja.

Yuantiku sendiri memperoleh pendanaan seri C sebesar USD 15 juta (sekitar Rp 165 milyar) dari Matrix Partners China dan IDG. Sebelumnya Yuantiku meraih pendanaan seri A sebesar USD 2,2 juta (2012) dan pendanaan seri B sebesar USD 7 juta (2013).

5. Taamkru

Taamkru merupakan startup edtech asal Thailand yang menyediakan platform e-learning khusus untuk anak-anak pra-sekolah. Dengan menggunakan platform Taamkru, anak-anak pra-sekolah di Thailand bisa bermain sambil belajar dengan tetap mendapatkan pantauan dari orang tua. Taamkru yang sudah memiliki 100.000 pengguna aktif bulanan ini juga memiliki aplikasi mobile-nya.

Taamkru sendiri mendapatkan pendanaan awal sebesar USD 620.000 (sekitar Rp 6.820.000.000). Anda bisa men-download aplikasi Taamkru disini.

Semoga kelima startup edtech Asia yang mendapatkan funding tadi bisa menginspirasi Anda bahwa betapa peluang mendirikan startup edtech di Indonesia masih terbuka luas dengan ide-ide bisnis yang kreatif dan inovatif.

Sumber: Edukwest

Monday, August 04, 2014

LeapFrog Mengakuisisi Pembuat Browser Khusus Anak KidZui

EDUQO.com: Perusahaan hiburan edukatif LeapFrog yang berbasis di California-Amerika Serikat mengakuisisi startup edtech KidZui sebagai penyedia browser internet khusus anak.




KidZui sebelumnya merupakan browser resmi pada tablet yang dikeluarkan LeapFrog yaitu LeapPad3 dan LeapPage Ultra Xdi. KidZui sendiri mengklaim bahwa browser-nya aman untuk anak karena bisa mengarahkan konten web yang sesuai dengan perkembangan anak baik foto, video, dan lainnya. Saat EDUQO membuka KidZui, kondisi websitenya sedang down.

Anda bisa menyaksikan preview sekilas mengenai KidZui pada video berikut ini:

Sumber: Tech Crunch