7 Cara Memanfaatkan Twitter untuk Pendidikan

Twitter bukan saja sumber berita tercepat, tapi Anda juga bisa belajar banyak dengan menggunakan Twitter. Bagaimana caranya?

Panduan Search Engine untuk Anak

Kebanyakan aktivitas menjelajahi internet dimulai dari search engine. Bekali anak Anda dengan tips berikut supaya internet tetap aman dan bermanfaat.

Guru Virtual untuk Belajar Bahasa Asing

Ingin pintar berbahasa asing? Coba saja aplikasi berikut ini

Saluran Pendidikan di YouTube

Siapa sangka Anda bisa menjadi lebih pintar dengan banyak menonton di YouTube? Pilih videonya disini.

Potensi Global Konten E-learning asal Indonesia

Konten e-learning buatan Indonesia sangat diminati pasar luar negeri. Ada peluang bisnis yang besar disini.

Wednesday, April 24, 2013

HarukaEdu: Pendidikan Jarak Jauh Khusus Perguruan Tinggi


EDUQO.com: Ajang ISODEL (International Symposium and Open, Distance, and E-Learning) untuk tahun 2012 kemarin telah berhasil diadakan Desember silam di Bali, Indonesia.

Dari sebelas point kesimpulan yang dihasilkan pada kegiatan educational technology tahunan tingkat Internasional tersebut, ada satu point yang bagi EDUQO sangat relevan dengan kondisi Indonesia.

Point kesembilan tersebut menyimpulkan bahwa:

“The biggest challenge on the use of ICT in ODEL (Open, Distance, and E-Learning) is not the availability of technology, but the changing of learning paradigm, mindset, culture, and practices of all the players and stakeholders. As if in a newly introduced scenario, we are facing the changing learning culture within our education system and practices.”

Setelah pekan silam peluncuran produk StartUp Kelase, minggu ini dunia pendidikan Indonesia diramaikan kembali dengan produk educational technology: HarukaEdu.

Screen capture situs HarukaEdu

Tidak mengusung produk Social Network Learning (seperti FodBoo, StudentBook, Goesmart, dan Hoodemia), Private Social Network (seperti Tutor dan Eversiti), maupun Mobile Learning Platform (seperti Kelase); justru HarukaEdu menawarkan solusi layanan pendidikan jarak jauh melalui internet (online education) berupa online learning dan online degree program, bagi Perguruan Tinggi (PT) di Indonesia.

Jika Anda telah membaca tulisan EDUQO mengenai “Pengaruh Pendidikan Online dalam Merubah Cara Belajar”, ditemukan sebuah fakta bahwa pada tahun 2019 diperkirakan 50% lembaga pendidikan di Amerika Serikat akan diajarkan secara online.

Bahkan diperkuat data dari info grafik yang sama, bahwa per 2009 saja sebanyak 75% PT telah memiliki pembelajaran online dalam rencana jangka panjang mereka.

Jadi, bagi Anda khususnya segment pembaca EDUQO kategori CIO (Chief Information Officer); sekiranya kampus Anda berencana menawarkan program online degree sebagaimana Harvard University, Stanford University, George Washington University, dan sederet PT top dunia lainnya; melakukan partnership dengan HarukaEdu merupakan langkah strategis.

Apalagi layanan HarukaEdu fokus menitikberatkan pada empat point yaitu: (1) Quality; (2) Affordability; (3) Accessibility; dan (4) Sociability; dengan investasi, waktu pengembangan, dan resiko yang minimal. Solusi yang ditawarkan HarukaEdu pun mencakup semua elemen kunci online education baik itu: Digital courseware and study materials; IT infrastructure; Operations; dan Investments.

Semoga dengan kehadiran HarukaEdu bisa membantu proses perubahan learning paradigm, mindset, culture, dan practices penggunaan ICT dalam pendidikan; khususnya di Indonesia yang masih dalam proses perkembangan.

Selamat datang, HarukaEdu!

Sumber Berita: Milist StartUp Lokal Indonesia; HarukaEdu
Sumber Gambar: HarukaEdu

Tuesday, April 23, 2013

Tujuh Kebiasaan Efektif Pendidik dalam Menggunakan Teknologi (Bagian 2—Selesai)

EDUQO.com: Kebiasaan Ketiga: Menganut Asas Perubahan.
Tentu Anda masih teringat dengan Pemenang “Guru Era Baru (Guraru) 2011”, Bapak Agus Sampurno. Apa yang membuat Guru SD International Global Jaya ini menjadi Juara Pertama pada Guraru angkatan pertama ini?

Ya, beliau menganut asas perubahan. Apalagi memang kriteria pemenang Guraru itu merupakan sosok Guru yang memiliki blog minimal aktif setahun dengan konten pendidikan. Sesederhana itu bukan untuk menciptakan perubahan?

Kebanyakan para Guru yang menggunakan teknologi hari ini memang para Inovator atau Guru yang berinisiatif mengadopsi teknologi untuk pertama kalinya dalam proses KBM. Maka dari itu, perubahan merupakan hal yang harus dirangkul, bukan untuk diperangi.

Kebiasaan Keempat: Berbagi Cara Penggunaan Teknologi.
Efektivitas penggunaan teknologi juga diukur dengan sejauhmana Anda berbagi dengan yang lain. Jika Anda telah membaca salah satu keunggulan Google Apps for Education (GAfE), maka kolaborasi real time merupakan jawabannya. Inilah salah satu cara dalam hal berbagi pengetahuan.

Alumni Forum GAFE Indonesia 2012 wilayah Jawa Barat
Teknologi telah membuka pintu bagi Anda untuk  berkolaborasi melampaui dinding sekolah. Manfaatkanlah teknologi sebagai media berbagi inspirasi khususnya mengenai proses pendidikan.

Melakukan trial and error dengan perangkat teknologi yang ada, kemudian berbagi cara aplikasinya untuk proses pendidikan, semakin meningkatkan efektivitas penggunaan teknologi.

Jika Anda belum mencoba kreativitas mengumpulkan PR para siswa melalui YouTube, apakah Anda sudah mencoba bagaimana memanfaatkan Twitter untuk pendidikan seperti yang sempat EDUQO bahas?

Kebiasaan Kelima: Berpikir “Win-Win Sollution
Point ini juga masuk dalam kebiasaan yang tercantum dalam buku The 7 Habits of Highly Effective People” bagian Kemenangan Publik.

Untuk efektivitas penggunaan teknologi dalam pendidikan khususnya proses KBM, tentunya Anda ingin kebersamaan dalam penggunaan perangkat yang sama. Bukankah menggunakan komputer bersama-sama dalam satu ruangan lebih efektif jika hanya satu komputer digunakan bersama?

Pada point ini, jika memang Anda ingin kebersamaan penggunaan perangkat yang sama dalam suatu kelas, nampaknya ide pembelian borongan merupakan solusinya. Sehingga kesepakatan bisa terbangun antara pihak ke-tata-usaha-an lembaga, para pendidik, pelajar, bahkan orangtua. Pastikan bahwa perangkat teknologi itu berdampak terhadap hasil belajar dan yang terpenting pelajar selaku pengguna mengerti nilai teknologi tersebut.

Strategi Malaysia menerapkan Google Apps for Education dan Chromebooks merupakan salah satu contoh nyata. Silahkan Anda membaca beritanya disini.

Kebiasaan Keenam: Bersikap Teliti dan Berpikir Dua Langkah ke Depan.
Pengguna teknologi yang efektif senantiasa bersikap teliti dan berpikir dua langkah ke depan. Dia akan mengerti bagaimanakah dampak edukatif teknologi terhadap pembelajaran. Dia juga memahami tingkat kecintaan siswa terhadap tren teknologi. Dia juga bisa memaklumi kebergantungan pelajar terhadap perangkat teknologi.

Hal ini perlu ditekankan agar Anda sebagai pendidik tidak hanya termakan oleh iklan. Dengan ketelitian terhadap produk teknologi berikut turunannya, Anda bisa menyeleksi manakah perangkat yang tepat untuk digunakan.

Apalagi dengan berpikir dua langkah ke depan, menunjukkan pola pikir visioner Anda. Lagipula, apakah Anda ingin tiap tahun membeli perangkat teknologi yang baru hanya karena faktor tren sesaat?

Kebiasaan Ketujuh: Peduli secara Aktif.
Kebiasaan yang terakhir yaitu peduli terhadap penggunaan teknologi secara aktif. Para pendidik yang memiliki kebiasaan ini umumnya sangat bersemangat mengenai kreasi ide inovatif untuk rencana pelajaran dengan mengaplikasikan teknologi yang tersedia.

Para pendidik yang efektif menggunakan teknologi itu juga begitu memikirkan bagaimana cara melibatkan kelas mereka agar lebih hidup. Karena mereka bertanggungjawab untuk menginspirasi pelajar dengan teknologi dalam proses KBM.

Satu alasan kuat mengapa mereka begitu peduli secara aktif, karena sebuah pemahaman bahwa dengan teknologi bisa memberikan dampak edukatif yang besar.

Nah, dari tujuh kebiasaan tadi, mana sajakah yang sudah Anda miliki?

Mari kita berbagi di bawah ini….

Sumber Berita: Edudemic, Always Prepped
Sumber Gambar: //theipadnews.com; //mediacastblog.com; //sewickley.com; //securedgenetworks.com

Tujuh Kebiasaan Efektif Pendidik dalam Menggunakan Teknologi (Bagian 1 dari 2)


EDUQO.com: Terinspirasi dari karya mendiang Stephen R. Covey berupa buku “The 7 Habits of Highly Effective People” sekaligus mengutip info grafik dari situs Always Prepped mengenai riset efektivitas Guru dalam menggunakan teknologi di negara maju, tersajilah tulisan dengan judul seperti diatas.

Anda tidak perlu berkecil hati sekiranya perangkat teknologi tercanggih yang dimiliki di sekolah baru berupa sebuah komputer. Apalagi hal tersebut pernah EDUQO bahas, silahkan Anda membacanya disini.

Satu prinsip utama yang perlu dipegang bahwa Anda sebagai Pendidik atau Learning Leader (tidak hanya Guru; melainkan juga Dosen, Trainer, Mentor, dan profesi sejenis), janganlah menggunakan teknologi sekedar menggunakannya.

Anda mesti memiliki alasan yang kuat dan tujuan positif dari pemilihan teknologi yang akan digunakan, demi menunjang proses KBM untuk optimasi ICT tersebut.

Berikut EDUQO sarikan tujuh kebiasaan efektif, yang semestinya dimiliki para Pendidik atau Learning Leader dalam menggunakan teknologi untuk proses KBM.


 Kebiasaan Pertama: Selalu Mengawali dengan Pertanyaan “Mengapa”.
Anda tentu telah membaca dari EDUQO mengenai Papan Tulis Interaktif (Interactive White Board), Proyektor Interaktif, atau bahkan yang terbaru Desktop Apple iMac 2012 21,5 inchi khusus untuk pendidikan.

Nah, apakah lembaga pendidikan Anda sungguh-sungguh telah membutuhkannya? Jika memang iya, tanyakan kembali alasan terkuat untuk menggunakan alat bantu teknologi tadi.

Pertanyaan mendasar dalam menggunakan perangkat teknologi biasanya berupa: apakah teknologi tersebut menghemat waktu, meningkatkan hasil belajar, dan atau membantu perencanaan pelajaran?

Kebiasaan Kedua: Berusaha Menjadi Pribadi Pendidik yang Fleksibel dan Adaptable.
Dalam dua tahun terakhir ini, perkembangan kemajuan educational technology khususnya di Indonesia cukup menggembirakan. Secara terus-menerus teknologi memang akan terus berubah dan tentunya ini cukup memengaruhi proses KBM.

Masih ingat dengan pembahasan Kelas Virtual PSBV (Pusat Sumber Belajar Virtual) yang pernah EDUQO bahas? Atau masih ingatkah Anda dengan kelas virtual tanpa ruang fisik seperti konsep Kelase, Eversiti, maupun Tutor?

Inilah kebiasaan kedua yang perlu Anda miliki, untuk memahami gambaran besar perubahan teknologi khususnya educational technology. Dengan pemahaman ini, Anda akan menjadi pribadi fleksibel dan adaptable (dapat beradaptasi) dalam menghadapi perubahan teknologi.


Sumber Berita: Edudemic, Always Prepped
Sumber Gambar: //teach.com; //alwaysprepped.com

Tuesday, April 16, 2013

Malaysia Mereformasi Pendidikan dengan Google Apps dan Chromebooks

EDUQO.com: Hampir satu pekan Malaysia mengukuhkan diri sebagai salah satu negara di Asia Tenggara, yang menerapkan Google Apps dan menggunakan laptop Chromebooks untuk sistem pendidikan nasional mereka.


Berita yang EDUQO kutip dari situs The Next Web, Rabu (10/04/2013) ini mengumumkan bahwa Malaysia telah mengadopsi Google Apps untuk 10 juta pelajar, guru, dan orangtua. Kemudian semua Sekolah Dasar dan Menengah di negeri jiran tersebut menerima Chromebooks untuk mendukung proses pendidikan para pelajar.

Satu hal lain yang mengejutkan, kerjasama Malaysia dengan Google ini juga sebagai upaya negara untuk mereformasi sistem pendidikan nasional mereka. Pengumuman yang ditulis Felix Lin (Direktur Manajemen Produk Google) itu juga menyebutkan bahwa upaya Malaysia untuk meningkatkan mutu sistem pendidikan ini bukanlah hal yang mudah.

Felix Lin menuliskan bahwa untuk menerapkan teknologi seluruh negeri, diperlukan komputer yang bersifat sederhana, mudah dikelola, dan aman. Selain itu bukan hanya mudah di-setting, komputer yang akan digunakan dalam skala besar itu juga perlu berbiaya efisien. Chromebook sebagai laptop produksi Google memenuhi kriteria itu semua yang disebutkan diatas.

Bahkan dengan menggunakan sebuah study yang dilakukan oleh perusahaan riset IDC (International Data Corporation), Google mempelajari bahwa Chromebooks akan menghasilkan penghematan tiga tahun biaya kepemilikan sebesar USD 1,135 untuk tiap-tiap komputer (jika dikonversikan ke dalam rupiah dengan kurs Rp 9.700 per USD 1, kurang lebih Rp 11.009.500,-).

Menurut Google bahwa Malaysia merupakan wilayah terbaru yang melakukan perubahan sistem pendidikannya dengan menggunakan Chromebooks. Google juga  mengatakan bahwa lebih dari 3.000 sekolah di seluruh dunia, sekarang ini menggunakan laptop tersebut untuk berbagai alasan.

Alasan penggunaan perangkat tersebut bukan hanya untuk meningkatkan pengalaman belajar, melainkan juga termasuk untuk memperbaiki tingkat kehadiran dan kelulusan. Apalagi program ini memang kepanjangan dari program “Chromebooks Google untuk Pendidikan”.

Namun, Chromebook bukan satu-satunya produk Google yang terlibat dalam ruang lingkup pendidikan. Pada “Hari Guru Sedunia” tahun 2012 silam, Google bahkan mengumumkan beberapa data statistik menarik mengenai adopsi teknologinya oleh lembaga-lembaga pendidikan.

Data statistik itu diantaranya menyebutkan: 400 lebih Universitas di dunia memanfaatkan YouTube Edu untuk menjadi penyelenggara perkuliahan dan kursus; mayoritas dari universitas-universitas elit paling prestisius di Amerika Serikat yang tergabung dalam “Ivy League” (Universitas Brown, Universitas Columbia, Universitas Cornell, Universitas Dartmouth, Universitas Harvard, Universitas Pennsylvania, Universitas Princeton, dan Universitas Yale) dan kebanyakan dari 100 Universitas Paling Top di AS menggunakan Google Apps For Education (GAFE); serta lebih dari 500 sekolah dan kawasan menggunakan Chromebooks pada musim Gugur tahun silam.

Google mengutarakan bahwa pengukuhan Malaysia menerapkan Google Apps dan menggunakan Chromebooks itu menunjukkan sebuah gerakan sistem sekolah yang mengakui kekuatan internet dalam bidang pendidikan.

Akankah pemerintah Republik Indonesia mereformasi sistem pendidikan nasional dengan langkah yang sama?

Mari kita bersama-sama mengamati perkembangannya.

Sumber Berita: The Next Web
Sumber Gambar: The Next Web

Monday, April 15, 2013

Belajar Secara Mobile dengan “Kelase”

EDUQO.com: Dari fakta dan data yang EDUQO pelajari betapa tahun 2013 sepertinya memang akan menjadi tahunnya Educational Technology.

Keseriusan pemerintah Republik Indonesia yang membangun instalasi hotspot WiFi medio Desember 2012 silam dengan program “Indischools”, merupakan pertanda positif tersendiri.

Karena setelah itu program yang mengarah kepada modernisasi dan digitalisasi pendidikan semakin kentara. Apalagi setelah “Indischools” disusul dengan program “WiFi FlashZone” dan “Wifi Indischools” kemudian disambung dengan program “Flash Lounge”.

Namun, membangun masa depan Educational Technology Indonesia tidak cukup hanya dengan dukungan pemerintah berupa infrastruktur. Perlu kerjasama antar element lain dalam membangkitkan kemajuan pendidikan ini.

Jika Anda telah membaca berita mengenai “Tutor” dan “Eversiti” sebagai media Private Social Network (PSN) yang pernah EDUQO angkat, kini bertambah lagi satu produk yaitu “Kelase”.

Screen capture situs Kelase
Selain berupa PSN, “Kelase” juga memosisikan diri sebagai Mobile Learning Platform (MLP) yang menargetkan segment pendidikan secara institusional baik formal maupun non-formal.

Sebagai PSN, “Kelase”  menyediakan alat bantu (learning tool) yang memudahkan para Learning Leader untuk mengelola proses KBM-nya. Baik itu Lesson Planer, Bloom Toolbox, RubriMaker, Learning Flow Template, dan learning tool lainnya.

Bukan hanya itu, pelajar juga bisa belajar dengan cara menyenangkan dengan fasilitas “Gamification” melalui Badge dan Gift. Bahkan “Kelase” juga bisa menjembatani komunikasi, jika konteks-nya Sekolah; antara Pelajar, Guru, Orang Tua, dan Sekolah mengenai kegiatan akademik secara mobile.

Lembaga pendidikan Anda dapat mencoba layanan ini pada bulan Juli 2013 secara cuma-cuma. Untuk informasi lebih lanjut mengenai perkembangannya, silahkan Anda bergabung dengan “Kelase” disini.

Sumber Berita: Milist StartUp Lokal
Sumber Gambar: Kelase