7 Cara Memanfaatkan Twitter untuk Pendidikan

Twitter bukan saja sumber berita tercepat, tapi Anda juga bisa belajar banyak dengan menggunakan Twitter. Bagaimana caranya?

Panduan Search Engine untuk Anak

Kebanyakan aktivitas menjelajahi internet dimulai dari search engine. Bekali anak Anda dengan tips berikut supaya internet tetap aman dan bermanfaat.

Guru Virtual untuk Belajar Bahasa Asing

Ingin pintar berbahasa asing? Coba saja aplikasi berikut ini

Saluran Pendidikan di YouTube

Siapa sangka Anda bisa menjadi lebih pintar dengan banyak menonton di YouTube? Pilih videonya disini.

Potensi Global Konten E-learning asal Indonesia

Konten e-learning buatan Indonesia sangat diminati pasar luar negeri. Ada peluang bisnis yang besar disini.

Tuesday, April 22, 2014

#EdTechPreneurship Function Spaces Mendapatkan Modal Awal dari Nexus Venture Partners

EDUQO.com: Dalam perspektif StartUp Indonesia, ada yang mengatakan bahwa satu tahun terakhir bukanlah era jaya-nya Social Network.

Apalagi dalam konteks StartUp EdTech yang diperkuat fakta di lapangan bahwa justru bidang MOOC (Massive Open Online Courses) dewasa ini yang nampak lebih prospektif untuk didirikan.

Anda bisa membaca tulisan EDUQO mengenai fenomena MOOC tersebut disini.

Sebab MOOC terhitung “seksi” sebagai StartUp EdTech, mengingat konsekuensi dari kebutuhan pendidikan global yang sedang berduyun-duyun menuju Era School 3.0 dimana menuntut personalisasi pembelajaran secara lebih intelijen, daripada Social Network for Learning atau yang dikenal juga dengan istilah Social Learning Network.


Namun, persepsi tersebut sepertinya tidak berlaku untuk Function Space sebagai StartUp dari India berupa Social Learning Network untuk ilmu pengetahuan (science) ini.

Function Space yang disebut-sebut oleh Economic Times pada edisi Kamis (17/04/2014) sebagai “Facebook for Science” itu justru belum seminggu ini mendapatkan seed funding dari Nexus Venture Partners.

Pendanaan ini akan digunakan baik untuk pengembangan platform-nya itu sendiri, terutama fungsi-fungsi agar memudahkan kolaborasi dan juga untuk menarik banyak para ahli ilmu pengetahun serta para kontributornya, demi memperluas basis pengguna secara umum.

Didirikan tahun 2013 yang berbasis di Pune, India; Function Space menyatakan bahwa selama ini telah menarik para pengguna dari 190 negara.

Function Space sendiri bertujuan menjadi platform sosial dimana para Peneliti, Profesor, dan Mahasiswa bertemu untuk berdiskusi dan berkolaborasi.

Walau bagaimanapun, StartUp ini juga terbuka untuk masyarakat umum yang berminat pada penelitian dan topik ilmu pengetahuan di Perguruan Tinggi.

Baru-baru ini Function Space juga menawarkan pilihan berupa artikel-artikel, aneka video, alat bantu gambar untuk diskusi, dan tentu saja untuk keperluan networking.

Semakin menarik bahwa di tengah pesimisme mengenai StartUp EdTech di bidang Social Learning Network khususnya di Indonesia, justru Function Space bukanlah satu-satunya yang berambisi untuk menjadi semacam “one-stop-shop” untuk pendidikan ilmu pengetahuan tingkat Perguruan Tinggi secara online.

Tepat satu hari sebelum Function Space mengumumkan seed funding yang diterimanya, StartUp EdTech berbasis Luxembourg-Eropa yaitu MyScienceWork telah mengumumkan dana yang baru saja didapatkannya sebesar USD 1,1 juta (jika dikonversikan ke dalam rupiah dengan kurs Rp 11.000,-/USD  maka sekitar Rp 12.100.000.000,-).


Belum selesai sampai disana, pada akhir Februari 2014 sebuah Social Network untuk Mahasiswa Teknik bernama Piazza pun mengungkap dana Series B* sebesar USD 8 juta (jika dikonversikan ke dalam rupiah dengan kurs Rp 11.000,-/USD  maka sekitar Rp 88.000.000.000,-) yang baru saja diterimanya.

Pada saat itu Piazza juga sekaligus launching Piazza Careers sebagai portal rekruitmen kampus yang membolehkan para calon pemberi kerja untuk mencari dan berkomunikasi dengan para Mahasiswa Teknik di dunia maya.


Lalu, bagaimanakah perkembangan StartUp EdTech Social Learning Network khas Indonesia yang sejak 2012 sudah didirikan baik itu Hoodemia, Fodboo, Goesmart, dan Studentbook? 


*Series B Round merupakan istilah berupa rangkaian kegiatan untuk mengumpulkan pendanaan tahap berikutnya setelah Series A funding.

Series A Round sendiri merupakan istilah berupa rangkaian kegiatan untuk mengumpulkan pendanaan tahap pertama yang bertujuan untuk membantu StartUp menjadi perusahaan yang lebih profesional dalam menjalankan bisnisnya.

Pendanaan pada tahap ini biasanya ditukar dengan 20% hingga 40% saham StartUp. Uang dari Series A funding ini umumnya akan digunakan untuk menyewa kantor baru, merekrut karyawan, melakukan pemasaran, riset pasar, pengembangan produk, dan hal-hal semacamnya yang diperlukan untuk perusahaan profesional yang baru berjalan.

Untuk seri pengumpulan dana permodalan tahap berikutnya akan disebut sebagai Series C dan seterusnya.

(Diambil dari “It’s My StartUp” karya Lahandi Baskoro, 2013).

Sumber: Edukwest

Monday, April 21, 2014

Selamat Datang Intel Education 2-in-1

EDUQO.com: Anda tentu telah membaca review EDUQO mengenai dua komputer Intel khusus pendidikan beberapa edisi silam.

Pertama yaitu komputer tablet Studybook (2012), silahkan untuk membacanya disini; dan kedua Education Tablet (2013), Anda bisa membacanya disini.

Sebetulnya masih ada komputer Intel untuk pendidikan berupa netbook yaitu Classmate yang diperuntukkan bagi pelajar di negara berkembang.

Tahun 2014 ini, Intel kembali meluncurkan komputer khusus untuk pendidikan berupa notebook berjenis hybrid yang artinya bisa digunakan berupa laptop maupun tablet bernama: Intel Education 2-in-1.


Lalu, apa sajakah spesifikasi serta fitur notebook yang memiliki mobilitas seperti tablet dan tampilan serta produktivitas sekelas laptop tersebut?

Berikut beberapa diantara spesifikasi dan fitur tersebut:
  • Berukuran 10 inci dengan teknologi layar sentuh (touch-screen).
  • Resolusi layar 1,366 x 768 pixel.
  • Kamera depan dan belakang.
  • Aksesoris yang menunjang inquiry based learning berupa capacitive stylus pen, audio yang terintegrasi, stereo speaker, dan mikorofon digital.
  • Dilengkapi prosesor quad-core Intel Atom Z3740D.
  • RAM 2 GB dan juga memory storage sebesar 32 GB hingga 64 GB.
  • Menggunakan operating system (OS) Windows 8.1.
  • Daya tahan baterai selama 8 jam.
  • Memiliki akses ke perpustakaan digital secara global dengan lebih dari 225,000 judul referensi pendidikan.
  • Bekerja dengan fitur-fitur Intel Eduation Solutions baik itu Intel Education Sotware, Intel Education Services, Intel Education Resources, dan Kno Products.


Sayang, bagi Anda yang berhasrat untuk segera membelikannya bagi sang buah hati, Intel belum resmi mengumumkan harga pasti notebook tersebut.

Walau bagaimanapun, “Selamat datang Intel Education 2-in-1!”

Sumber: Zdnet
Gambar: Intel

Saturday, April 19, 2014

Video Pertama Kelas Online “Harukaedu”

EDUQO.com: Anda masih ingat dengan berita yang EDUQO muat mengenai kelas online Technopreneurship dari Harukaedu?

Untuk menyegarkan kembali ingatan, silahkan Anda membacanya disini.

Pada Kamis (10/04/2014) pekan silam, video pertama kelas online Harukaedu ini resmi diluncurkan di YouTube.

Materi pada video ini masih seputar Orientasi seputar kelas online Technopreneurship tersebut.

Untuk mengetahui lebih detail, berikut EDUQO sajikan videonya untuk Anda:


Selamat datang para calon Technopreneur potensial Indonesia berikutnya!

Sumber: YouTube

Friday, April 18, 2014

38% Batita di Amerika Serikat Menggunakan Ponsel dan Tablet

EDUQO.com: Berdasarkan data yang EDUQO temukan per November 2013 dari laporan eMarketer bahwa pada 2013 diperkirakan terdapat 41,3 juta pemilik telepon selular (ponsel) dan 6 juta pemilik komputer tablet di Indonesia.

Angka ini akan terus membengkak pada tahun 2017 dengan prediksi akan mencapai 103,7 juta pengguna ponsel dan 16,2 juta pengguna tablet.

Sayangnya dengan data potensial tersebut, riset selanjutnya mengenai “5 Kebutuhan Dasar Pengguna Perangkat Mobile di Indonesia” menempatkan prosentase penggunaan ponsel dan tablet tadi, baru menginjak angka 31% untuk keperluan mendapatkan informasi dan 30% untuk menyelesaikan tugas.

Data tadi juga belum mengungkap berapakah prosentase pengguna ponsel dan tablet di kalangan anak-anak khususnya Bayi dibawah tiga tahun (Batita).



Sebuah riset terkini menguak fakta mengejutkan betapa sejumlah 38% Batita di Amerika Serikat sudah menggunakan ponsel dan tablet. Angka tersebut naik 10% dibandingkan tiga tahun silam.

Lalu, bagaimanakah dampak psikologis penggunaan ponsel dan tablet di kalangan Batita menurut Psikolog Anak?

Berikut EDUQO tampilkan video dari “Voice of America” yang dirilis Sabtu (12/04/2014):



Setelah menonton video tadi, semoga Anda semakin bijak meminjamkan ponsel dan atau tablet untuk sang buah hati.


Sumber: Mix magazine, VOA
Gambar: Flickr 

Thursday, April 17, 2014

7 Mesin Pencari Akademik selain Google

EDUQO.com: Jika dahulu Anda sempat akrab dengan istilah “Da’i Sejuta Umat”, kemudian ada juga istilah “Handphone Sejuta Umat”, tepat kiranya jika Google diberi gelar “Mesin Pencari Sejuta Umat” karena popularitas dan kuantitas jumlah penggunanya di seluruh dunia.

Maka dari itu, sekiranya Anda merasa bahwa Google sebagai mesin pencari (search engine) begitu terkesan “Sejuta Umat”, nampaknya sesekali tujuh mesin pencari akademik selain Google di bawah ini bisa dicoba.

Dari hasil penelusuran EDUQO betapa selain Google, sesungguhnya terdapat 100 mesin pencari akademik yang tersedia di dunia maya.

Mulai dari mesin pencari yang khusus untuk menemukan Book & Journals, Science, Math & Technology, Social Science, History, Business & Economy, serta kategori akademik lainnya.

Pembeda antara mesin pencari yang umum dengan mesin pencari yang dikhususkan untuk kategorisasi pada bidang pendidikan tadi, lebih kepada hasil temuan yang ditampilkan.

Sebutlah, jika menggunakan Google, artinya Anda akan menemukan informasi seperti apa yang Google inginkan untuk ditemukan (terkait dengan rumus algoritma yang telah diprogram sedemikian rupa).

Sementara mesin pencari yang dikhususkan untuk kebutuhan pendidikan tadi, akan menampilkan temuan informasi sesuai dengan apa yang benar-benar Anda butuhkan.

Berikut tujuh mesin pencari akademik pilihan EDUQO untuk Anda.

Search Engine #1
RefSeek
Pendekatan unik RefSeek menawarkan para siswa maupun mahasiswa,  aneka mata pelajaran yang meliputi banyak hal tanpa informasi diluar batas yang diperlukan, sebagaimana mesin pencari umum seperti link-link sponsor dan iklan.

Penasaran ingin mencoba?


 Silahkan Anda mengunjungi RefSeek disini.


Search Engine #2
Gooru Learning
Gooru Learning ini sebagiannya merupakan mesin pencari dan sebagian lainnya adalah Learning Management System (LMS).


Dengan tampilan yang rapih, Gooru Learning membantu para Guru untuk memulai kelas dengan metode Blended Learning (memadukan antara pembelajaran offline dengan online-redaksi).

Gooru Learning bisa Anda coba disini.


Search Engine #3
Virtual LRC
Virtual Learning Resources Center (LRC) disebut-sebut sebagai mesin pencari akademik yang “beradab”.

Virtual LRC ini menyusun daftar isi ratusan situs informasi akademik terbaik, yang dipilih oleh para Guru dan Pustakawan profesional seluruh dunia; demi menyediakan informasi yang benar dan terkini untuk para Siswa dan Guru, juga untuk keperluan proyek akademik universitas dan sekolah.


Mari jelajahi mesin pencari “beradab” tersebut disini.


Search Engine #4
BASE
Memiliki nama panjang Bielfeld Academic Search Engine (BASE), mesin pencari ini merupakan salah satu yang sangat besar di dunia terutama untuk sumber-sumber web akademik dengan akses terbuka.

BASE mengumpulkan, membakukan, dan menyusun daftar isi data-data akademik dengan akses terbuka tersebut.


Dengan menyediakan lebih dari 50 juta dokumen dari lebih 2.400 sumber, dokumen-dokumen yang tersedia di BASE ini harus memenuhi persyaratan khusus tertentu dan relevansinya dari sebuah kualitas akademik.

Untuk berselancar di BASE, bisa Anda kunjungi situsnya pada link disini.


Search Engine #5
Jurn
Jika Anda ingin mencoba mesin pencari akademik yang dipilih sedemikian rupa dengan susunan daftar isi sebanyak 4.848 e-journal gratis pada bidang Seni dan Kemanusiaan, cobalah Jurn.

Bukan hanya itu, jutaan artikel dan tesis gratis juga tersedia pada mesin pencari ini.


Anda bisa mengaksesnya dengan klik disini.


Search Engine #6
Microsoft Academic Search
Microsoft Academic Search meliputi lebih dari 48 juta publikasi, dengan bersumber dari lebih 20 juta penulis lintas aneka bidang akademik, yang diperbaharui tiap minggu.


Koleksi data yang besar ini juga membolehkan pengguna untuk menciptakan berbagai cara inovatif agar bisa divisualisasikan serta digali lebih mendalam dari makalah-makalah, jurnal-jurnal, dan lainnya yang tersedia disana.

Untuk merasakan jutaan publikasi dengan puluhan juta Penulis tersebut, silahkan kunjungi situsnya disini.




Search Engine #7
Google Scholar
Baiklah, mesin pencari ini memang masih dari produk Google juga. Tetapi, mesin pencari ini lebih spesifik menampilkan informasi terkait khusus hanya seputar akademik.

Ingin tahu apa bedanya mesin pencari Google yang biasa Anda gunakan dengan yang khusus untuk akademik ini?


Anda bisa membandingkan keduanya disini.

Selamat mengeksplorasi aneka mesin pencari akademik yang tersedia di dunia maya!

Silahkan bagikan pengalaman Anda nanti kepada EDUQO, pada kolom di bawah ini.

Sumber: TeachThought
Gambar: Flickr