7 Cara Memanfaatkan Twitter untuk Pendidikan

Twitter bukan saja sumber berita tercepat, tapi Anda juga bisa belajar banyak dengan menggunakan Twitter. Bagaimana caranya?

Panduan Search Engine untuk Anak

Kebanyakan aktivitas menjelajahi internet dimulai dari search engine. Bekali anak Anda dengan tips berikut supaya internet tetap aman dan bermanfaat.

Guru Virtual untuk Belajar Bahasa Asing

Ingin pintar berbahasa asing? Coba saja aplikasi berikut ini

Saluran Pendidikan di YouTube

Siapa sangka Anda bisa menjadi lebih pintar dengan banyak menonton di YouTube? Pilih videonya disini.

Potensi Global Konten E-learning asal Indonesia

Konten e-learning buatan Indonesia sangat diminati pasar luar negeri. Ada peluang bisnis yang besar disini.

Saturday, August 09, 2014

5 Startup Edtech Asia yang Mendapatkan Funding Baru-baru ini

EDUQO.com: Pendanaan startup edtech di Indonesia memang tidak semudah di negara-negara Asia lainnya. Namun, ini merupakan tantangan sekaligus peluang tersendiri mengingat di negara kita juga terdapat beberapa startup edtech yang berkualitas.


Pada edisi kali ini, EDUQO menghimpun lima startup edtech di Asia yang pada periode Juni hingga Juli silam mendapatkan pendanaan, yaitu:

1. Fliplingo

Berbasis di Thailand, Fliplingo merupakan startup edtech yang menyediakan layanan penerjemahan tweet hingga 30 bahasa di Twitter. Proses penerjemahannya sendiri dilakukan oleh manusia dalam waktu 15 menit. Filiplingo temasuk startup edtech karena memberikan informasi mengenai pembelajaran bahasa. Fliplingo mendapatkan dana awal sebesar USD 150.000 (sekitar Rp 1.650.000.000,-).

2. PhilSmile

Sekitar 12 juta warga Filipina  bekerja di luar negeri dan mentransfer uang untuk kebutuhan pendidikan bagi keluarganya di kampung halaman. Pada tahun 2013 saja tercatat transfer yang dikirim warga Filipina yang berdomisili di luar negeri untuk biaya pendidikan keluarga sekitar USD 1,3 milyar.

Dengan jeli PhilSmile menjadikan data ini sebagai lahan bisnis startup edtech-nya dengan menyediakan layanan khusus pembayaran pendidikan. Sayangnya PhilSmile enggan mengungkap berapakah dana awal yang telah diterima dari Eric Barbier selaku founder dan CEO TransferTo tersebut.

3. Wanxue

Didirikan pada tahun 2006, Wanxue merupakan startup edtech asal China yang menyediakan layanan berbagai tes persiapan online di China seperti “The China Graduate Admission Test”. Ini kali ketiga Wanxue mendapatkan pendanaan dari investor setelah pada tahun 2008 dan 2011 sebesar USD 20 juta.

Wanxue mendapatkan pendanaan seri C dari Baidu yang diperkirakan sekitar puluhan juta dolar. Pendanaan ketiga dari Baidu ini juga menandai bahwa Wanxue resmi menggunakan domain baru di bawah portal pendidikannya Baidu.

4. Yuantiku


Mirip dengan Waxue, Yuantiku juga startup edtech berupa platform yang menyediakan layanan test persiapan di China. Didirikan pada tahun 2012, Yuantiku telah memiliki lebih dari 1,5 juta pengguna yang belajar melalui database soal-soal tes dan ujiannya. Perbedaannya dengan Waxue, Yuantiku juga menyediakan tes persiapan pegawai negeri, pasca sarjana, dan tes masuk kerja.

Yuantiku sendiri memperoleh pendanaan seri C sebesar USD 15 juta (sekitar Rp 165 milyar) dari Matrix Partners China dan IDG. Sebelumnya Yuantiku meraih pendanaan seri A sebesar USD 2,2 juta (2012) dan pendanaan seri B sebesar USD 7 juta (2013).

5. Taamkru

Taamkru merupakan startup edtech asal Thailand yang menyediakan platform e-learning khusus untuk anak-anak pra-sekolah. Dengan menggunakan platform Taamkru, anak-anak pra-sekolah di Thailand bisa bermain sambil belajar dengan tetap mendapatkan pantauan dari orang tua. Taamkru yang sudah memiliki 100.000 pengguna aktif bulanan ini juga memiliki aplikasi mobile-nya.

Taamkru sendiri mendapatkan pendanaan awal sebesar USD 620.000 (sekitar Rp 6.820.000.000). Anda bisa men-download aplikasi Taamkru disini.

Semoga kelima startup edtech Asia yang mendapatkan funding tadi bisa menginspirasi Anda bahwa betapa peluang mendirikan startup edtech di Indonesia masih terbuka luas dengan ide-ide bisnis yang kreatif dan inovatif.

Sumber: Edukwest

Monday, August 04, 2014

LeapFrog Mengakuisisi Pembuat Browser Khusus Anak KidZui

EDUQO.com: Perusahaan hiburan edukatif LeapFrog yang berbasis di California-Amerika Serikat mengakuisisi startup edtech KidZui sebagai penyedia browser internet khusus anak.




KidZui sebelumnya merupakan browser resmi pada tablet yang dikeluarkan LeapFrog yaitu LeapPad3 dan LeapPage Ultra Xdi. KidZui sendiri mengklaim bahwa browser-nya aman untuk anak karena bisa mengarahkan konten web yang sesuai dengan perkembangan anak baik foto, video, dan lainnya. Saat EDUQO membuka KidZui, kondisi websitenya sedang down.

Anda bisa menyaksikan preview sekilas mengenai KidZui pada video berikut ini:

Sumber: Tech Crunch

Saturday, August 02, 2014

900 Aplikasi yang Memanjakan Anak dari Samsung

EDUQO.com: Pada pertengahan Juli 2014 silam, Samsung meng-upgrade “Samsung Apps Store” dengan desain dan nama baru yaitu: Samsung Galaxy Apps.



Samsung Galaxy Apps sendiri melalui fitur “Kids Store”-nya ingin memanjakan buah hati Anda dengan menyediakan 900 aplikasi khusus anak baik gratis maupun berbayar termasuk games, aplikasi pendidikan, dan masih banyak yang lainnya. Beberapa aplikasi anak populer yang tersedia yaitu “LEGO”, “Pocoyo”, dan “Tipitap”.

Sayangnya 900 aplikasi khusus anak ini baru tersedia pada smartphone Galaxy S5 dan tablet Galaxy Tab S.

Sumber: The Next Web
Gambar: Samsung

Friday, August 01, 2014

KangaDo, Startup Edtech yang Masuk Finalis The 500 Startups

EDUQO.com: Puncak program akselerasi The 500 Startup angkatan ke-9 baru saja berakhir pada Selasa (29/07/2014) dengan melakukan demo produk dan layanan pada konferensi Microsoft di Mountain View, California.

Dari 29 finalis, hanya ada satu-satunya startup edtech dan dianggap paling potensial yaitu: KangaDo. Pihak The 500 Startup memilih KangaDo berdasarkan kualitas produk/layanan dan market yang mereka tuju.



KangaDo sendiri merupakan sebuah jejaring sosial yang memungkinkan sesama orangtua untuk menitipkan anaknya “diasuh” secara sementara oleh orangtua lain sesudah jam sekolah selesai. Misalnya, mengantarkan anaknya oleh orangtua lain menuju tempat kursus musik setelah pulang sekolah. Hal ini tentu meminimalisir potensi penculikan anak.

Untuk meningkatkan kredibilitas, startup yang berbasis di San Francisco ini juga bekerjasama dengan beberapa sekolah di Amerika Serikat dalam mempromosikan layanannya dan meyakinkan para orangtua yang menyekolahkan anak-anaknya disana.

Sekalipun layanannya beroperasi secara terbatas di Amerika Serikat, namun Anda masih bisa men-download aplikasinya secara gratis di Andorid atau iOS.

Sumber: Tech Crunch

Thursday, July 31, 2014

Clevio Masuk dalam Nominasi Ashoka Changemakers

EDUQO.com: Kabar gembira datang dari startup edtech Indonesia yang menyediakan layanan kursus coding untuk anak: Clevio.
Kemarin pagi Aranggi Soemardjan selaku Founder dan CEO Clevio mem-posting di jejaring sosial Facebook bahwa Clevio masuk sebagai salah satu nominator Ashoka Changemakers pada kompetisi “Re-Imagine Leraning Challenge”.


Dalam pantauan EDUQO, masuknya Clevio dalam nominasi bergengsi ini menunjukkan babak baru startup edtech Indonesia. Besar harapannya Clevio bisa mengubah cara pandang masyarakat Indonesia mengenai prospek dari industri edtech.
Anda bisa memantau perkembangannya disini.