Masih ingat bagaimanakah sejarah Facebook bermula?
Seorang Mark Zuckerberg merancang sebuah jejaring sosial di kamar asramanya, dengan niatan sekedar ingin menghubungkan secara virtual sesama internal mahasiswa kampusnya, Harvard College, Amerika Serikat. Kemudian perlahan meluas ke kampus Stanford, Columbia, dan Yale University. Selanjutnya jejaring sosial ini dibuka ke sekolah Ivy League, Universitas Boston, Universitas New York, MIT, hingga terus merambah ke beberapa universitas di Kanada dan Amerika Serikat lainnya.
Fenomena hampir serupa mencuat di Indonesia tepatnya di Universitas Indonesia (UI) yang dikembangkan oleh Pusat Ilmu Komputer (Pusilkom) dimana jejaring sosial Hoodemia dilahirkan. Hal ini dikemukakan mengingat sebagaimana Facebook, maka Hoodemia pun memiliki kesamaan berupa jejaring sosial yang terafiliasi resmi dengan institusi pendidikan.
Selain untuk ajang virtual dalam bersosialisasi sesama member, Hoodemia pun dirancang agar terhubung dengan sistem akademik pendidikan di UI. Para anggota yang telah melakukan registrasi, khususnya mereka yang berstatus mahasiswa UI, dapat memantau perkembangan nilai akademik, melihat jadwal perkuliahan, atau kegiatan civitas academica UI lainnya. Inilah keunggulan Hoodemia yang terintegrasi dengan sistem akademik sehingga tak ubahnya Facebook di awal lahirnya di Harvard University.
Pertanyaannya, apakah Hoodemia yang akan tersedia dalam bentuk aplikasi mobile tiga platform BlackBerry, Android, dan iOS akan menjadi Facebook-nya Indonesia; setelah sebelumnya juga jejaring sosial berbasis pendidikan bermunculan seperti: BukuQ, FodBoo, dan Goesmart?

0 comments:
Post a Comment