Thursday, July 12, 2012

53% Pembaca Perpustakaan Memilih E-Book


Data yang mengungkap 53% pembaca perpustakaan memilih e-book (buku elektronik) ini memang hasil survey di Amerika Serikat. Tepatnya oleh Pew Internet & American Life Project yang mengeluarkan hasil survey mengenai penggunaan e-book di kalangan pengunjung perpustakan. Hasil survey lain  menemukan bahwa 12% pengunjung (tepatnya yang berusia 16 tahun ke atas) yang lebih memilih e-book, dalam setahun terakhir hanya meminjam satu buku cetak.

EDUQO belum menemukan data nasional mengenai penggunaan e-book di perpustakaan. Mengingat di Republik Indonesia ini untuk masalah perbukuan masih berkutat seputar trio problematika klasik: minat baca rendah, daya beli kurang, dan daya jual lemah. Satu hal yang perlu dicatat, tiga masalah tadi itu pun masih dalam konteks buku cetak, bukan e-book.

Dewasa ini hampir semua perpustakaan di Amerika Serikat sudah banyak mengoleksi e-book sehingga mengancam industri buku cetak. Hingga penerbit besar sekaliber Penguin Books pada Februari 2012, berhenti memasok e-book dan audio book ke perpustakaan besar di New York City. Jikapun pasokan buku canggih tersebut tetap akan berlanjut, perpustakaan tadi mesti menunggu kurang lebih enam bulan. Sehingga para pengunjung yang ingin membaca buku terbaru, mau tidak mau harus membeli edisi cetaknya atau menunggu satu semester sehingga baru tersedia di perpustakaan.

Tentu masih dalam proses bangsa ini memiliki perpustakaan yang didominasi e-book daripada buku cetak. Sekalipun kabar baiknya bahwa tahun 2012 ini di Daerah Istimewa Yogyakarta telah didirikan bukan hanya penerbit dan pemasar, melainkan juga perpustakaan  buku digital (baca: e-book) pertama di Indonesia dengan nama: BukuTablet. Selain itu di Daerah Keistimewaan Indonesia Jakarta juga telah berdiri ScanBuku sebagai penyedia jasa digitalisasi buku. Bahkan untuk kecanggihan bacaan dalam kategori media cetak, KOMPAS tergolong surat kabar pertama di Asia Tenggara yang sudah menerapkan teknologi augmented reality (gambarnya bergerak, bersuara, bahkan muncul ke permukaan seolah-olah keluar dari media bacaan tersebut).

EDUQO meyakini bahwa sekalipun suatu saat di Republik Indonesia pemilihan e-book akan lebih populer di perpustakaan seluruh nusantara, tetapi buku cetak tetap masih akan mendapatkan tempat tersendiri di hati para pecinta buku. Sehingga kekhawatiran Lee Rainie, Direktur Pew Internet Project yang  sudah EDUQO singgung di awal tulisan, bahwa popularitas e-book rentan merugikan penjualan buku cetak; semoga bisa terantisipasi sebagaimana strategi penerbit Penguin Books.

Ayo para pecinta teknologi untuk pendidikan, mari sama-sama beralih ke e-book

2 comments:

  1. Yup... buku cetak memang tetap oke... dan Ebook juga bisa lebih efisien untuk para traveler...

    Garudhawaca
    (Indie Publishing and Digital Book agency)
    http://garudhawaca.web.id

    ReplyDelete
  2. Benar sekali! :) Keduanya saling melengkapi sebenarnya...

    ReplyDelete