Ajang pencarian guru paling melek internet—EDUQO mengsitilahkannya
dengan Ultra Hi-Tech Teacher—tingkat nasional
yang kedua kalinya diadakan produsen komputer Acer dengan sebutan kondang “Acer Guru Era Baru (Guraru) Award” ini,
secara rutin tahunan kembali diselenggarakan. Dengan kriteria utama memilih
para Guru yang efektif dan kreatif memanfaatkan teknologi, khususnya melalui
media blog minimal aktif dalam setahun terakhir dengan misi pendidikan; Anda
bisa mengikuti ajang bergengsi di Republik Indonesia ini. Tetapi, jikapun Anda
bukan seorang Guru, Anda bisa menominasikan blog Guru yang sekiranya tepat
untuk direkomendasikan mengikuti ajang prestisius tersebut.
Pada edisi kali ini EDUQO istimewa menyajikan untuk
Anda, hasil wawancara kami dengan Juara Pertama Acer Guraru Award 2011, BapakAgus Sampurno (Guru SD International Global Jaya). Bagaimanakah kesan-pesan
beliau selama menjadi duta Acer Guraru Award sebelum beliau melepaskan gelarnya
dua bulan mendatang?
EDUQO sarikan wawancara berikut ini untuk Anda para
pecinta teknologi untuk pendidikan:
Agus Sampurno
(AS):
Rasanya campur aduk. Walaupun sebenarnya lebih banyak deg-deg-an-nya. Karena saya
sadar sekali bahwa tugas terberatnya adalah menginspirasi guru lain supaya mau
berubah. Apalagi tantangan murid kita di masa depan luar biasa banyaknya.
E: Kalau boleh tahu, apa saja kriteria sosok Guru yang layak mendapatkan gelar Guru Era Baru?
![]() |
| Pak Agus saat dianugerahi Juara Pertama Guraru 2011 |
E: Kalau boleh tahu, apa saja kriteria sosok Guru yang layak mendapatkan gelar Guru Era Baru?
AS: Guru Era Baru
mengacu pada sosok Guru yang menjadikan profesinya sebagai agen perubahan bagi
murid yang ada di sekolah. Guru type seperti ini adalah Guru yang berorientasi
pada kontribusi dan aksi. Baginya sekolah adalah komunitas yang di dalamnya
semua orang belajar. Bagi para murid, type guru seperti ini adalah sosok yang
bisa dijadikan contoh dalam mencari ilmu, cair dalam pergaulan, tapi tetap
tegas terhadap standar serta
prinsip-prinsip bagi kemajuan siswanya di masa depan. Bagi sesama rekan guru,
ia adalah rekan yang senang berbagi pengetahuan. Bagi orangtua, type guru ini
adalah orang yang bisa dipercaya dalam mendidik anak mereka, sehingga menomorsatukan
“semua hal yang terbaik bagi siswa”.
E: Wah, nampaknya
ini type Guru ideal sekali ya, Pak? Bagaimana kaitannya dengan penguasaan
terhadap ICT?
AS: Sepanjang
karier saya sebagai Guru, saya memang senang mengelaborasi sosok-sosok yang
saya kenal. Karena semua orang ada kelebihan dan kekurangannya. Sosok diatas
merupakan jalan keluar bagi pertanyaan banyak pihak mengenai sosok guru yang
bisa menghadapi tantangan zaman
E: Oh, jadi kata
kuncinya sosok guru yang bisa menghadapi tantangan zaman, ya? Tentunya
penguasaan ICT salah satunya ya, Pak?
AS: Dan untuk
penguasaan IT-nya, ia adalah seseorang yang berorientasi produk. Bagi Guru
seperti itu siswanya bebas membuat produk apa saja sepanjang siswa merasa bahwa
dirinya “kreatif”, maka ia akan mengizinkan siswanya bereksplorasi. Karena di
masa sekarang ini IT adalah “alat”, bukan tujuan.
E: Wah, menarik
sekali ya, Pak! Dari hasil pengamatan di lapangan bertemu dengan seluruh Guru
di Republik Indonesia, apa saja fakta menarik yang Bapak temui mengenai
kualitas Guru?
AS: Guru kreatif
itu ternyata ada dimana-mana. Mereka ada di kota terpencil sampai kota besar.
Dengan caranya sendiri, masing-masing dari mereka mengatasi tantangan dalam
melaksanakan tugasnya. Satu hal yang menjadi kesamaan adalah mereka menggunakan
hati saat mengajar dan menjadi individu reflektif dalam menyiasati tantangan
keseharian sebagai guru.
E: Kira-kira
kualitas Guru seperti apa yang perlu ditingkatkan dari pengamatan Bapak sebagai
Duta Guraru 2011?
AS: Menurut saya
adalah tipe guru yang berlimpah sarana dan akses, namun masih berpikir dua kali
untuk berubah. Berubah yang saya maksud adalah cara pandang terhadap “untuk siapa sebenarnya mereka mengajar”.
Karena kalau hanya menunggu instruksi atasan, maka perubahan akan lama
terwujud. Ketika mereka mau merubah pandangan bahwa demi siswalah mereka
mengajar, maka mereka menjadi guru yang kreatif.
E: Hm, penekanan
frasa “Guru yang Kreatif“ nampaknya point penting dalam karakter seorang Duta Guraru
ya, Pak?
AS: Benar, saya
kebetulan berasal dari sekolah internasional yang serba ada dan berlimpah
fasilitas. Bagi guru-guru seperti saya, menjadi kreatif berarti tinggal
memaksimalkan saja semua fasilitas yang ada dan tersedia. Jika saya hanyut
dalam rutinitas, maka saya akan terjebak untuk menjadi guru yang biasa-biasa
saja. Karena toh semuanya sudah ada dan tinggal pakai saja. Nah, yang
membedakan adalah hasil dari pengalaman saya mengoptimalkan fasilitas melimpah
yang ada di sekolah dan telah memiliki sistem mendukung tersebut. Pengalaman yang
bagus saya bagi lewat blog dan saya upayakan semua guru bisa mempraktekkannya
di sekolah masing-masing. Ini berarti bahwa definisi guru kreatif sangat
bergantung pada situasi tantangan dari lingkungan masing masing pendidik.
E: Tentang blog,
setahu kami bahwa kriteria Acer Guraru itu mesti aktif menulis di blog selama
setahun terakhir; bagaimanakah cara Bapak konsisten menulis di blog?
AS: Saya berusaha
menganggap semua pengalaman berharga, walaupun itu adalah sebuah kegagalan
apalagi keberhasilan. Karena saya sadar untuk sebuah hal yang saya pikir biasa
buat orang lain, namun bagi saya itu adalah pengalaman unik dan luar biasa. Maka
dari itu saya menargetkan satu hari satu tulisan, meskipun paragrafnya tidak
banyak. Tulisan-tulisan saya tersebut kesemuanya merupakan refleksi mengajar
saya dan sebagai anggota komunitas belajar di sekolah saya.
E: Dalam bahasa
lain, sudah saatnya Guru sekarang menggunakan media blog juga dalam meluaskan
dimensi ruang “pengajarannya“ ya, Pak?
AS: Betul sekali! Karena
blog adalah sarana untuk para pendidik berbagi cerita mengajar, sambil sama-sama
belajar dari pengalaman orang lain
AS: Kontes ini
hanya sarana untuk menjadikan seorang guru lebih baik dari hari ke hari. Di balik
kontes ini juga ada harapan besar dari semua pihak yang peduli pendidikan,
khususnya Acer, yang rindu akan sosok pendidik yang total dalam berkiprah dan
memberikan sumbangsihnya bagi perubahan bangsa.
E: Terakhir, apa
pendapat Bapak sebagai Duta Acer Guraru 2011, mengenai manfaat EDUQO bagi para
Guru, sebagai media yang fokus membahas perkembangan teknologi untuk dunia
pendidikan?
AS: EDUQO adalah
bukti dari aksi pihak yang peduli pendidikan dan peningkatan kompetensi kaum
guru dalam bidang teknologi. Saatnya kaum guru punya situs mitra dan rujukan,
dalam menemani kerja besar untuk merubah pola pikir dan praktek mengajar, dari
sebelumnya melakukan proses KBM seadanya hingga pada gilirannya menggunakan IT.
Ketika sudah menggunakan IT pun,
anggapan kaum guru mesti diubah untuk tidak melekatkan penggunaan IT seolah-olah
bisa menambah nilai akademik siswa saja, namun semata-mata agar siswa lebih
kreatif dalam mengekspresikan diri dan hasil belajarnya
Itulah hasil wawancara kami dengan Bapak Agus
Sampurno mengenai seputar fenomena “Guru Era Baru”. EDUQO sangat mendukung
kegiatan apapun yang membantu meningkatkan kompetensi para Guru di Republik
Indonesia ini. Bahkan kehadiran EDUQO memosisikan diri di bidang media
teknologi untuk pendidikan pun, agar bisa menjadi salah satu rujukan para Learning Leader (diantaranya Anda yang
berprofesi sebagai seorang Guru).
Catatan: Transkrip
wawancara telah melalui proses penyuntingan, tanpa mengurangi maksud yang
disampaikan.





menginspirasi sekali....
ReplyDeleteTerima kasih Ibu, Rosita... :)
ReplyDeleteSemoga bermanfaat...
Salam kenal pak Agus Sampurno, dari guraru award penghargaan khusus 2012.. main di http://www.bjgp-rizal.com/
ReplyDelete