Tentu Anda semua pernah membaca buku ”7 Kesalahan Terbesar Orangtua dan Cara-cara Memperbaikinya” karya suami-istri berprofesi Psikolog, John C. Friel dan Linda D. Friel (Mizan, 2002). Saya yang saat itu masih duduk di bangku kuliah jurusan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan (PPB), Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung; masih menyimpan catatan point-point pentingnya. Dari tujuh kesalahan terbesar orangtua dalam mengasuh anak, yaitu: (1) Memanjakan anak; (2) Mengabaikan perkawinan; (3) Memaksakan terlalu banyak kegiatan pada anak; (4) Mengabaikan kehidupan emosional dan spiritual; (5) Menjadi sahabat anak; (6) Gagal memberi anak struktur (pemahaman tentang kontrol diri); dan (7) Mengharapkan anak mewujudkan mimpi Orangtua; maka, point keempat (4) merupakan alasan mendasar di balik fenomena "Nanny-Pad" yang saya amati di beberapa negara maju tersebut.
Sebutlah jika saya merujuk pada hasil survey di Amerika dan Inggris akhir 2011 pada sejumlah 2.200 orang tua, betapa i-Pad dianggap cukup sebagai pengasuh anak apalagi ketika mereka disibukkan dengan rutinitas harian sebagai orangtua (baca: bekerja untuk mencari nafkah). Bahkan kehadiran ”Nanny-Pad” ini bisa membuat para orangtua tadi lepas tangan begitu saja dalam mengasuh anak. Apalagi satu rasionalisasi mengejutkan dari 77% orang tua tersebut (kira-kira sekitar 1.694 orang yang berpendapat demikian) bahwa komputer tablet dipercaya bermanfaat untuk mengembangkan kreativitas anak. Namun, bagaimana kreativitas anak akan berkembang positif, jika orang tua tadi lepas tangan sama sekali dalam hal pengasuhan anak?
Sungguh menarik penuturan John W. Santrock dalam buku rujukan saya saat masih mengontrak mata kuliah Psikologi Perkembangan sebanyak 2 SKS yang berjudul “Life-Span Development: Perkembangan Masa Hidup Jilid I” (Erlangga, 2002), betapa orang tua yang lepas tangan sama sekali dalam hal pengasuhan anak, tergolong dalam parenting style kategori permissive-indifferent. Anda semua tentu sudah mengetahui bahwa kategori parenting style per tahun 1971, seperti yang dicetuskan Diana Baumrind kemudian dikembangkan pula oleh para Developmentalis (Ahli Psikologi Perkembangan), terbagi dalam empat bentuk kategori:
(1) Authoritarian Parenting (Pengasuhan yang Otoriter):
Jenis parenting style yang membatasi dan menghukum, sekaligus menuntut anak untuk mengikuti perintah orangtua. Orangtua yang menerapkan parenting style ini menetapkan batasan tegas dan tidak memberi kesempatan kepada anak untuk bermusyawarah.
(2) Authoritative Parenting (Pengasuhan yang Otoritatif):
Orang tua yang menerapkan parenting style ini masih menetapkan batasan dan kendali anak-anaknya, namun tetap memberikan ruang untuk mandiri. Anda yang tergolong dalam kategori kedua ini dipastikan masih melakukan musyawarah verbal dengan sang buah hati.
(3) Permissive-Indulgent (Pengasuhan yang Permissive-Indulgent):
Jika Anda sebagai orang tua sangat terlibat dalam kehidupan anak-anak, tetapi hanya sedikit menetapkan batasan atau kendali terhadap mereka; inilah defenisi jenis parenting style ketiga. Efek negatif jangka panjang jika Anda terus menerapkan gaya ini, menyebabkan anak kurang dalam mengendalikan diri.
(4) Permissive-Indifferent (Pengasuhan yang Permissive-Indifferent):
Sampailah kita pada parenting style yang teramat erat dengan pembahasan opini edisi ini. Kategori terakhir menunjukkan sosok orang tua yang sangat tidak terlibat dalam kehidupan anak. Parenting style jenis ini berakibat bukan hanya sang buah hati buruk dalam kendali diri melainkan juga memiliki kemandirian yang lemah.
Namun demikian, fakta diatas tidak dapat digeneralisir sedemikian rupa, mengingat mungkin saja ada beberapa orang tua yang bukan permissive-indifferent; tapi menjadikan i-Pad sebagai “pengasuhnya”. Apalagi jika dikaitkan dengan fakta bahwa kesibukan orang tua bekerja (apapun jenis parenting style-nya), pada akhirnya terpaksa memilih “Nanny-Pad” pada rentang waktu tertentu dalam hal pengasuhan. Bahkan menurut Dokter Anak T. Berry Brazelton, “keterpaksaan” memilih “Nanny-Pad” secara sementara selama mereka bekerja, lebih merupakan rasionalisasi atas perasaan bersalah orang tua; karena kesibukan sehingga tidak sempat mengasuh sang buah hati.
Lantaran jika dikaji lebih jeli, fenomena “Nanny-Pad” tidak selalu berkaitan dengan orang tua yang terlalu sibuk bekerja atau tidak; melainkan lebih kepada pengaruh jenis parenting style. Bahkan menurut Lois Hoffman (1989) betapa orang tua bekerja, khususnya dari pihak Ibu, merupakan suatu bagian dari kehidupan modern. Perempuan yang beraktivitas di luar rumah (terlepas status dia masih lajang atau sudah menjadi seorang istri) dengan istilah “Wanita Karir” ini, menurut Hoffman justru digolongkan sebagai sosok tanggap akan perubahan sosial. Namun, dilema peran publik (public role) sebagai “Wanita Karir” versus peran domestik (domestic role) sebagai “Ibu Rumah Tangga” tidaklah mesti berujung konflik batin yang menyerahkan pengasuhan anak kepada sosok “Nanny-Pad”.
Apalagi beberapa Peneliti menemukan fakta bahwa penggunaan komputer tablet berlebihan berakibat negatif pada perkembangan serta kepribadian anak, diantaranya berupa: autisme atau kesulitan memfokuskan perhatian. Belum lagi jika dikaitkan dengan temuan Ahli Jiwa, Ivan Goldberg, pada penelitiannya di China serta Korea Selatan mengenai ”Internet Addiction Disorder”. Anak-anak yang ”diasuh” oleh sosok ”Nanny-Pad” secara berlebihan, tentunya untuk beberapa aplikasi diharuskan menggunakan koneksi internet karena kemestian online dalam mengaksesnya, rentan terancam mengidap gangguan kecanduan internet tersebut. Apalagi gangguan yang mempunyai istilah lain ”Problematic Internet Use” ini, memiliki gejala yang sama persis seperti gejala pada kecanduan merokok, alkohol, bahkan narkoba. Dalam penelitian ini, salah satu yang menjadi sorotan utama adalah kecanduan bermain game. Lagipula, jika anak-anak ”diasuh” oleh sosok ”Nanny-Pad”, aplikasi apa lagi yang sanggup menenangkan mereka selain game (baik offline atau bahkan online)?
Fenomena pengasuhan oleh sosok “Nanny-Pad” dewasa ini memang baru menggejala di negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan Eropa. Namun, trend di negara maju sering merembet dengan berdampak ke negara berkembang seperti Indonesia dalam prediksi waktu 2-3 tahun mendatang. Jadi, sekalipun memang pengguna i-Pad di Republik ini tercatat PT Telkom Indonesia masih kurang-lebih sekitar 15.000 pelanggan, namun seiring bertambahnya kelas menengah di Indonesia yang menurut World Bank bertambah 7 juta jiwa (2011) yang otomatis berbanding lurus dengan daya beli terhadap barang-barang tersier; saya memprediksikan bahwa fenomena “Nanny-Pad” cepat atau lambat akan menggejala di bumi nusantara.
Dalam sudut pandang parenting style, apalagi demi membentuk kepribadian anak yang mandiri serta sanggup mengendalikan diri, sekalipun pada gilirannya tetap memilih “Nanny-Pad” sebagai pengasuh karena pertimbangan tertentu; pastikan kita mulai belajar merubah gaya pengasuhan anak menjadi Authoritative Parenting (Pengasuhan yang Otoritatif) sebagai bentuk moderat. Sehingga proses pengasuhan tetap berjalan seimbang proporsional, baik secara sentuhan elektronika maupun sentuhan manusiawi langsung dari orang tua. Inilah generasi bangsa Indonesia mendatang sebagai hasil “pengasuhan” secara Hi-Tech, tetapi tidak mengesampingkan sentuhan manusia secara Hi-Touch….
EPILOG
Terus terang, semenjak saya menggunakan i-Pad dua bulan terakhir sebagai hadiah juara ke-2 lomba menulis tingkat Nasional yang diadakan Kompasiana dan Bank Indonesia itu, saya pun begitu menikmati proses “pengasuhan” ala “Nanny-Pad”. Bahkan dengan eksperimen sederhana, selain menginstall aplikasi yang menunjang mobilitas saya sebagai Edu-Tech-Preneur, saya pun menginstall puluhan aplikasi untuk anak, seperti: Come Learn Spelling, Counting 123, Piano School, Play Lab, Old McDonald, Phone 4 Kids, dan puluhan lainnya; kemudian saya juga memosisikan diri seumpama anak kecil. Hasilnya sungguh mengejutkan betapa aneka aplikasi tadi sanggup membuat saya sebagai orang dewasa pun menjadi “autis”. Lalu, apa jadinya jika pengguna i-Pad tersebut adalah anak-anak yang tahapan perkembangan intelektual serta perkembangan moralnya masih dalam proses pencarian bentuk?
Anak merupakan sosok utuh yang bukan hanya memiliki dimensi fisikal serta intelektual yang barangkali cukup dipenuhi kebutuhannya melalui “Nanny-Pad”. Tetapi, anak juga memiliki dimensi emosional serta spiritual yang perlu dikembangkan dengan pendekatan sentuhan manusia. Saya teringat pesan Lisa Guernsey, Direktur Early Education Initiative, di New American Foundation; bahwa orang tua perlu memperhatikan intensitas dalam berinteraksi langsung dengan anak, bahkan termasuk saat buah hati sedang “diasuh” oleh “Nanny-Pad”. Terakhir, jangan sampai orang tua masa kini yang memilih “Nanny-Pad” dalam proses pengasuhan anak apapun pertimbangannya; seperti yang diistilahkan John C. Friel dan Linda D. Friel: “Orang tua sekarang adalah anak-anak yang membesarkan anak-anak….”
Salam Digital,
Herry Fahrur Rizal
Chief Executive Officer of EDUQO
@MyEduqo







0 comments:
Post a Comment